Pentingnya Platform Khusus untuk Isu Disabilitas di Media Mainstream

Cheta Nilawati

Oleh : Cheta Nilawaty Prasetyaningrum, Wartawan Tempo

HARUSKAH isu disabilitas memiliki platform khusus atau tetap menjadi bagian dari media mainstream? Isu disabilitas menjadi hype media di Indonesia setelah peraturan tersebut disahkan oleh DPR pada tahun 2016.

Namun, hanya sedikit yang media yang bersedia mempublikasikan berita disabilitas. Karena pembaca tidak terbiasa dengan masalah ini, itu dianggap tidak populer.

Masalah tidak setenar berita politik atau ekonomi. Akibatnya, tingkat pembacanya lebih rendah daripada isu-isu politik atau ekonomi.

Beberapa media yang mempublikasikan berita disabilitas cenderung menarik perhatian pembaca dengan menghadirkan citra disabilitas sebagai kesan yang salah.

Oleh karena itu, dalam hal menata ulang kesan yang salah, haruskah isu disabilitas memiliki platform khusus atau tetap menjadi bagian dari media mainstream?

 

KESALAHAN MEDIA TERHADAP CITRA DISABILITAS :

Inspirasi Porno

Inspirasi Porno didefinisikan sebagai bagaimana penyandang disabilitas disajikan oleh orang lain sebagai teladan yang kontradiktif.  Penyandang disabilitas  seringkali digambarkan tidak hanya kuat tetapi juga seseorang yang harus dikasihani.  Dengan kata lain, bahkan jika kecacatan menjadi lebih dapat diterima, kelainan masih ketakutan terbesar.

 

Penyalahgunaan Terminologi Disabilitas

Terminologi disabilitas cenderung digunakan oleh media sebagai karakter sifat, perangkat plot, atau suasana buruk. Representasi seperti ini tidaklah akurat ataupun adil.  Kadang-kadang penyandang disabilitas diperkuat oleh latar belakang cerita seperti mendeskripsikan penyandang disabilitas sebagai bodoh dan memiliki sikap negatif. Shakespeare, In Kasap & Gurcinar (2018).

 

Masalah Disabilitas yang Jarang Dibahas

Masalah disabilitas adalah dianggap sebagai isu yang tidak populer. Hanya satu persen media di  Amerika Serikat memiliki keinginan untuk memberitakan masalah disabilitas, bahkan wartawan cenderung memperpanjang penerbitan sampai satu tahun kemudian.  Oleh karena itu, masalahnya adalah sulit untuk menghasilkan perhatian pembaca.

“Dalam kasus ini, wartawan Tempo penyandang disabilitas sensorik penglihatan ini menilai, di Indonesia hanya sebagian kecil media, khususnya media online yang menyediakan layanan dan kanal khusus bagi penyandang disabilitas,”.

 

Kepahlawanan yang Berlebihan (Hyper Heroism)

Interpretasi media tentang perilaku biasa penyandang disabilitas dengan cara yang berlebihan. Kepahlawanan yang berlebihan kadang-kadang menunjukkan kesalahpahaman tentang penghakiman yang berdasarkan fisik. Misalnya, pahlawan super jarang digambarkan sebagai manusia yang memiliki  prostesis atau organ bionik. “Dalam masalah ini Cheta menyatakan bagaimana media seringkali menggambarkan penyandang disabilitas secara berlebihan,”.

 

LANSKAP MEDIA BARU

Opini Publik tidak Bisa Didorong oleh Media

Tidak ada bukti bahwa opini publik dapat didorong oleh media. Selain itu, pendapat audiens dipengaruhi oleh cara mereka berpikir. Ada banyak kemungkinan penyebab yang membentuk sikap dan pendapat penonton atau pembaca terhadap disabilitas.

 

Nilai Berita Di Balik Masalah

Isu yang sering diterbitkan tentang kecacatan di beberapa negara mengalami perubahan sangat. Alasan dibalik kemajuannya adalah karena media memiliki peran penting untuk memperkuat isu penting yang mendukung penyandang disabilitas.

Untuk contoh, liputan media di balik proses penerbitan National Disability Insurance System (NDIS) di Australia. Ada 455 artikel tentang NDIS yang dicakup oleh media Australia

 

Mengubah Pembaca Nilai

Pembaca media no lebih lama tergantung pada produk sirkulasi tetapi standar daya tarik pembaca. Baru-baru ini, masalah disabilitas dipertimbangkan sebagai kritikus sosial untuk peraturan diskriminatif yang diproduksi oleh pemerintah. Misalnya peraturan asuransi disabilitas di bawah Presiden Trump di Amerika Serikat.

 

Meningkatnya Kesadaran Terhadap Disabilitas

Beberapa perusahaan sudah mulaimenggunakan gambar disabilitas untukmeningkatkan kesadaran terhadapmasalah disabilitas.

Melibatkanmasalah disabilitas diiklan dapat membantuperusahaan untuk memenuhi kebutuhan tanggung jawab sosial mereka.

 

KESIMPULAN

Sistem kontrol yang komprehensif untuk masalah disabilitas di media arus utama dapat dibuat melalui platform khusus. Karena penyandang disabilitas mampu memberikan partisipasi penuh dalam pemberdayaan gerakan atau penanganan kritik melalui media, sistem kontrol yang dibuat.

Platform ini dapat mendorong media untuk lebih peduli dalam masalah disabilitas.

 

REKOMENDASI

Mengenai kesan palsu media tentang penyandang disabilitas, sangat disarankan bagi media untuk memiliki platform khusus untuk masalah disabilitas.

Platformnya bisa menjadi bagian dari media arus utama yang tergabung dengan saluran. Saluran harus dilakukan oleh orang yang berpengetahuan luas, jurnalis, perencanaan liputan yang baik, latar belakang yang kuat dan wawancara yang tepat tentang masalah disabilitas. ***

Catatan : Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan oleh IALF Education for Development (Bahasa Inggris). Penerbitan kembali di bumantara.net dalam bahasa Indonesia sudah disetujui Cheta Nilawaty Prasetyaningrum.

 

 

Komentar Facebook
Bagikan

Baca Juga

Dibuka Bupati, Anggota BPD se-Bolsel Ikuti Bimtek di Manado

BOLSEL – Bertempat di Hotel Aston, Manado, Bupati Bolsel H Iskandar Kamaru secara langsung hadir …