Persentase Tertinggi Hamil Usia Dini ada di Boltim dan Mitra. Kenali Resikonya!

Hamil Usia Dini
Ilustrasi Hamil Usia Dini.

KETIKA dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19, Indonesia dikabarkan menghadapi ledakan kehamilan baru. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan ada lebih dari 400.000 kehamilan tak direncanakan yang terjadi selama pandemi.

Tidak terkecuali di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), angka kehamilan sejak awal pandemi hingga sekarang juga mengalami peningkatan. Menariknya, 2019 hingga 2020 angka kehamilan perempuan di usia kurang dari (<) 16 tahun justru banyak terjadi di sejumlah daerah.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, tren hamil usia muda ini mengalami peningkatan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Di tahun 2019, persentasi tertinggi wanita hamil di usia <16 tahun ada di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) yaitu 12,03 persen. Sementara persentase hamil muda tertinggi di tahun 2020 ada di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yaitu 11,7 persen.

Persentase terendah kemudian ada pada Kota Manado, Tomohon dan Kabupaten Sitaro. Angka tersebut berada pada 1,82 hingga 4,3 persen tiap tahunnya.

BAHAYA HAMIL USIA MUDA

Lantas seberapa besar resiko yang bisa dialami pada saat hamil di usia muda. Melansir dari artikel alodokter.com, dibandingkan dengan perempuan yang hamil di usia 20–30 tahun, remaja perempuan yang hamil di usia terlalu muda atau di bawah 18 tahun lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan. Berikut ini adalah beberapa risiko atau dampak yang bisa terjadi pada remaja yang hamil di usia terlalu muda:

 

  1. Kematian Ibu dan Bayi

Semakin muda usia perempuan saat hamil, semakin tinggi pula risikonya untuk mengalami berbagai masalah dalam kehamilan. Risiko ini tidak hanya berbahaya bagi kesehatan dirinya, tetapi juga janin dalam kandungan.

Tubuh perempuan remaja juga masih terus mengalami pertumbuhan dan umumnya belum siap untuk menjalani proses persalinan, misalnya karena panggul sempit.

Selain itu, karena alasan malu atau hamil di luar nikah, tidak sedikit remaja wanita yang menutupi atau merahasiakan kondisinya, sehingga kesehatan tubuhnya serta janin tidak terpantau. Berbagai masalah tersebut bisa meningkatkan risiko kematian remaja yang hamil di usia muda dan juga janinnya.

 

  1. Kelainan Pada Bayi

Perempuan yang hamil di usia muda terkadang tidak mendapatkan dukungan dari keluarga atau bahkan pasangannya. Terkadang, kehamilan juga bisa saja tidak diinginkan.

Hal ini bisa saja membuat mereka kurang mendapat perawatan yang memadai. Padahal, masa kehamilan adalah periode penting yang membutuhkan perawatan dan persiapan yang baik.

Sebuah riset menunjukkan bahwa masih banyak remaja hamil yang kurang gizi. Kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi dapat meningkatkan risiko janin untuk mengalami berbagai kelainan, seperti penyakit bawaan lahir, terlahir prematur, atau bahkan keguguran.

 

  1. Komplikasi Kehamilan

Perempuan yang hamil di usia muda berisiko lebih tinggi terkena komplikasi kehamilan, seperti tekanan darah tinggi dan preeklamsia. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berbahaya bagi ibu dan janin.

 

  1. Berat Badan Lahir Bayi Rendah

Persalinan prematur merupakan salah satu masalah yang cukup sering terjadi pada perempuan yang hamil di usia remaja atau terlalu muda.

Perlu diketahui bahwa bayi yang terlahir prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, serta masalah tumbuh kembang.

Selain itu, bayi yang terlahir dari ibu yang masih remaja juga berisiko untuk terlahir dengan berat badan lahir rendah. Bayi yang terlahir prematur atau dengan berat badan rendah umumnya membutuhkan perawatan khusus. Jika kondisinya parah, bayi tersebut juga perlu menjalani perawatan di ruang NICU.

 

  1. Penyakit Menular Seksual

Remaja yang berhubungan seksual di usia muda lebih berisiko menderita penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, sifilis, dan herpes. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidaktahuan atau belum matangnya pola pikir mereka tentang hubungan seks yang aman, termasuk pentingnya penggunaan kondom.

Penyakit menular seksual yang tidak diobati bisa menyebabkan berbagai komplikasi pada kehamilan, mulai dari kelainan genetik pada janin, bayi terlahir cacat, kelahiran prematur, hingga kematian janin di dalam kandungan.

Selain itu, dalam jangka panjang, penyakit menular seksual juga bisa menyebabkan radang panggul dan kerusakan pada tuba falopi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.

 

  1. Depresi Pasca Melahirkan

Remaja perempuan lebih berisiko mengalami depresi pascamelahirkan karena merasa tidak siap, terutama jika tidak mendapat dukungan dari keluarga atau pasangan. Depresi berisiko membuat mereka tidak mampu merawat bayinya dengan baik atau bahkan berniat untuk membuang atau mengakhiri nyawa bayinya.

Remaja perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan juga sering menghadapi tekanan dari banyak pihak dalam berbagai bentuk. Misalnya, desakan untuk menggugurkan kandungan, ketakutan akan anggapan dari masyarakat, atau kekhawatiran akan kemampuan finansial untuk mengurus bayi di masa depan.

 

MENGHINDARI MASALAH KESEHATAN SELAMA HAMIL DI USIA MUDA

Meski risiko mengandung dan melahirkan di usia muda sangat tinggi, tetapi ada cara yang dapat dilakukan agar kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terjaga, di antaranya:

Konsultasi Rutin ke Dokter Kandungan

Agar kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terjaga, penting untuk menjalani pemeriksaan kandungan ke dokter kandungan atau bidan secara rutin. Hal ini juga penting dilakukan untuk mendeteksi sejak dini bila ada kelainan atau kondisi tertentu pada janin. Dengan demikian, langkah penanganan pun dapat segera dilakukan.

 

Jauhi Obat-Obatan Terlarang, Minuman Keras, dan Rokok

Tumbuh kembang janin dalam kandungan juga dipengaruhi oleh gaya hidup yang dijalani sehari-hari. Oleh karena itu, ibu hamil perlu menjauhi minuman keras, menghentikan kebiasaan merokok, dan menghindari penggunaan obat-obatan terlarang agar tidak membahayakan kesehatan diri dan janin.

 

Penuhi Asupan Gizi

Saat hamil, tubuh membutuhkan banyak asupan nutrisi. Oleh karena itu, ibu hamil perlu menjalani pola makan sehat. Ibu hamil juga membutuhkan suplemen kehamilan yang mengandung beragam nutrisi, termasuk vitamin, asam folat, dan zat besi agar kondisi kesehatan dan tumbuh kembang janin bisa terjaga.

 

Cari Dukungan

Tidak hanya wanita yang hamil di usia muda, ibu hamil yang usianya sudah cukup dewasa juga perlu mendapatkan dukungan yang baik. Oleh karena itu, janganlah merasa malu, ragu, atau takut untuk mencari support system yang baik selama menjalani kehamilan.

Apabila sulit mencari pertolongan, cobalah untuk menemui seorang konselor atau grup konseling yang bisa membantu untuk mendapatkan informasi atau membuat keputusan mengenai kehamilan dan mencari orang yang ingin mengadopsi bayimu. ***

Komentar Facebook
Bagikan

Baca Juga

2025: Tahun Kerja, Bukan Retorika Catatan Akhir Tahun Bupati Bolaang Mongondow Selatan

BUMANTARA.NET – Menutup tahun 2025, saya memilih untuk tidak sekadar menghitung capaian. Bagi saya, akhir …