BUMANTARA.NET — Keinginan untuk ikut menentukan arah pembangunan di tanah kelahirannya membawa Al Amin Van Gobel (AVG) ke arena Pemilihan Sangadi Biniha.
Berbekal pengalaman sebagai jurnalis dan dunia pendidikan, AVG menawarkan gagasan pemerintahan desa yang menurutnya harus lebih terbuka, terencana dan mampu mengoptimalkan potensi masyarakat.
Bagi AVG, desa memiliki banyak sumber daya yang dapat dikembangkan. Namun, potensi tersebut membutuhkan perencanaan yang jelas agar tidak berjalan secara terpisah.
Ia memandang pembangunan Biniha perlu disusun dengan memperhatikan kondisi masyarakat sekaligus perkembangan yang terus berubah.
Infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kepemudaan dan pelayanan publik dinilainya memiliki keterkaitan dalam menentukan kemajuan desa.
Pandangan tersebut tidak lepas dari pengalaman AVG selama menjalani profesi jurnalistik.
Berinteraksi dengan masyarakat membuatnya berkesempatan melihat secara langsung berbagai persoalan yang muncul di tengah warga.
“Selama menjadi wartawan, saya banyak bertemu masyarakat dan melihat langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi.”
”Dari situ saya belajar bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada gagasan yang terintegrasi dan melibatkan masyarakat,” kata AVG.
Menurut dia, pemerintah desa perlu memiliki prioritas yang terukur. Setiap program harus memiliki alasan yang jelas, sasaran yang tepat dan manfaat yang dapat dirasakan warga.
Salah satu sektor yang ingin mendapat perhatian adalah ekonomi masyarakat.
AVG berpandangan, pengembangan ekonomi desa tidak cukup hanya dengan memberikan program bantuan.
Potensi lokal, keterampilan warga, penggunaan teknologi dan akses pemasaran perlu dipertimbangkan secara bersamaan.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima program, tetapi dapat berkembang menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi desa.
Perhatian serupa diberikan kepada kelompok pemuda. Menurut AVG, generasi muda perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas.
Kegiatan kepemudaan, kata dia, dapat diarahkan pada pelatihan keterampilan, pengembangan usaha, kreativitas digital maupun berbagai aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi.
“Desa harus punya peta jalan. Kita harus tahu apa potensi yang kita punya, apa masalah kita, kemudian bagaimana menghubungkan semuanya menjadi sebuah program yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam menawarkan gagasannya, AVG membawa tiga prinsip yang menjadi dasar pemikirannya, yakni Amanah, Visioner dan Gotong Royong.
Amanah ditempatkan sebagai prinsip dalam menjalankan pemerintahan. Ia menekankan pentingnya kepercayaan publik, transparansi serta pelayanan yang tidak membedakan masyarakat.
Prinsip kedua adalah Visioner. Menurut AVG, pembangunan desa harus memiliki sasaran jangka panjang sehingga kebijakan yang dibuat hari ini tetap memiliki manfaat bagi masyarakat pada masa mendatang.
Sedangkan Gotong Royong menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat.
AVG menyebut pembangunan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah desa.
Tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, pelaku usaha, kelompok tani dan unsur masyarakat lainnya dinilai perlu dilibatkan dalam menentukan arah pembangunan.
“Pemimpin desa tidak mungkin bekerja sendiri. Pemerintah desa hanya bisa menjadi penggerak. Kekuatan sebenarnya ada pada masyarakat,” ungkapnya.
AVG juga menyoroti pentingnya pola komunikasi antara pemerintah desa dengan masyarakat.
Ia menginginkan kantor desa dapat menjadi tempat pelayanan yang mudah diakses warga sekaligus ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Menurutnya, pemerintah desa perlu membuka ruang dialog agar persoalan masyarakat dapat diketahui lebih cepat dan menjadi bahan dalam menentukan kebijakan.
“Kalau saya dipercaya, saya ingin membangun desa dengan cara mendengar lebih banyak. Masyarakat harus diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, karena mereka yang paling tahu kebutuhan desanya,” tutur AVG.
Keputusannya untuk ikut dalam kontestasi Pemilihan Sangadi Biniha disebut berangkat dari keinginan untuk memberikan kontribusi secara langsung bagi daerah asalnya.
Pengalaman sebagai jurnalis selama ini, menurut AVG, memberinya kesempatan mengenal berbagai persoalan masyarakat dari dekat. Pengalaman tersebut kini ingin dibawa ke ruang pengabdian di tingkat desa.
“Dulu saya banyak menulis dan memberitakan bagaimana masyarakat ingin melihat perubahan. Sekarang saya ingin ikut mengambil bagian dalam proses perubahan itu. Kalau bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi?” katanya.
AVG menyebut pembangunan Biniha ke depan perlu diarahkan tidak hanya pada pembangunan fisik.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi, pemberdayaan masyarakat serta pelayanan pemerintahan juga menjadi bagian yang harus berjalan bersamaan.
Dengan pengalaman jurnalistik dan pendidikan yang dimilikinya, ia ingin menawarkan pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan program.
Bagi AVG, perubahan di desa tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Yang terpenting, menurut dia, setiap langkah memiliki arah, melibatkan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga Biniha.***
BUMANTARA | Menggenggam Cakrawala Menggenggam Cakrawala
