Oleh :
Muhammad Rhesa
(Direktur Parametric Development Center & Peneliti Pusat Kajian Psikologi Sosial UNM)

SEJAK virus corona mulai dideteksi di Wuhan, Tiongkok pada bulan Desember 2019, tak perlu menunggu lama aktivitas dunia kemudian dibuat menjadi lumpuh. Per hari Selasa, tanggal 14 April 2020 secara global corona telah menginfeksi 1,9 juta jiwa penduduk dunia (Worldometers). Indonesia dengan 4.839 kasus (Kemenkes), kemudian Sulawesi Selatan (Sulsel) berada pada ranking lima Nasional dengan jumlah 231 kasus (covid19.sulselprov.go.id). Tak heran jika Sulsel yang sudah menyandang status zona merah bisa jadi makin “memerah” jika kasusnya terus bertambah.
Pemerintah pusat maupun daerah segera bertindak menyikapi masa krisis ini, begitu cara penyebaran virus telah dideteksi secara medis, seketika imbauan pemerintah pusat maupun daerah langsung membanjiri media massa. Cara pertama untuk memutus rantai penyebaran virus adalah dengan tidak melakukan kontak fisik secara langsung dengan orang lain. Cara tersebut praktis memaksa semua orang untuk mengubah cara kerjanya, mulai dari mengerjakan tugas kantor di rumah, rapat atau pertemuan secara online, serta menghentikan mobilisasi dari satu wilayah ke wilayah lain.
Saat imbauan teknis tersebut mulai menggangu ruang gerak serta mata pencaharian sebagian orang, saat itulah imbauan pemerintah berubah menjadi ujian kepatuhan. Kepatuhan kita diuji, apakah mampu untuk taat atau tidak demi memutus rantai penyebaran virus ini.
Penulis melakukan riset secara Nasional untuk melihat kesiapan publik mengikuti imbauan pemerintah. Dari total 1.337 responden, ada 1.303 responden yang setuju melakukan Work From Home (WFH) dan yang tidak setuju jumlahnya 34 orang. Kemudian ada 1.088 responden yang setuju lock down diterapkan dan ada 249 yang tidak setuju. Data ini adalah pre-print jurnal dari Pusat Kajian Psikologi Sosial UNM yang dikumpulkan secara online pada tanggal 17 hingga 27 Maret 2020.
Apapun jenis kebijakan yang akhirnya dipilih pemerintah, semakin ketat dan teknis aturannya semakin kencang juga ujian ini bagi masyarakat. Namun demi menyudahi badai virus ini, hanya ada satu kata, “patuh!”.
Mari kita telisik anjuran Taylor, Peplau, & O. Sears (2009) yang menguraikan enam faktor yang memengaruhi kapatuhan dan relevan kita terapkan selama masa corona ini.
Enam hal tersebut yang pertama adalah informasi, ketersediaan informasi relevan dan valid dibutuhkan masyarakat untuk menjadi petunjuk dalam mencegah dan mengobati infeksi corona. Masyarakat mesti dijauhkan dari ketidakpastian informasi seperti hoaks atau informasi kontradiktif. Akan lebih efektif jika informasi disampaikan secara persuasif, tingkat kerelaan untuk patuh akan lebih tinggi.
Kedua adalah keahlian, masyarakat lebih siap mematuhi imbauan menghadapi virus corona jika disampaikan oleh figur yang ahli di bidangnya, bukan pada figur yang sedikit tahu tapi justru banyak bicara. Ketiga adalah rujukan, imbauan yang sifatnya non-formal akan lebih baik jika disampaikan oleh figur yang memiliki banyak relasi. Hal ini disebabkan oleh sifat dasar manusia yang ingin tetap menjadi bagian dari kelompoknya dan cenderung mempertahankan relasinya. Artinya, tidak patuh berarti memungkinkan seseorang untuk dialienasi dari kelompok maupun relasi interpersonalnya.
Keempat adalah legitimasi, pihak yang memiliki otoritas secara institusi atau figur yang memiliki peran sebagai pemimpin akan lebih besar peluangnya untuk dipatuhi. Dalam situasi kekinian, imbauan yang bersifat kontradiktif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mesti diminimalisir demi memperkuat posisi otoritas pemerintah.
Faktor Kelima adalah imbalan, imbalan bisa menjadi salah satu pengontrol kepatuhan setelah kebijakan diterapkan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), WFH, atau Physical distancing akan lebih siap dipatuhi jika dibarengi dengan imbalan sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok masyarakat.
Keenam adalah koersi, hukuman juga bisa dijadikan alternatif pengontrol kepatuhan, begitu imbauan menghadapi corona telah disampaikan, kemudian perlu diikuti informasi yang jelas terkait jenis hukuman yang mengintai jika imbauan tersebut dilanggar. Semakin riskan pelanggarannya semakin berat pula hukuman yang mengintai.
Kita semua mesti ambil bagian, beragam anjuran tersebut juga bisa kita jalankan sesuai dengan ruang kendali kita masing-masing. Semua ini agar kepatuhan kita bisa berbuah kemenangan melawan corona. Sebelum tiba di hari kemenangan yang sebenarnya; hari yang Fitri 1441 Hijriyah. Aamiin yaa rabbal alamin. ***
BUMANTARA | Menggenggam Cakrawala Menggenggam Cakrawala
